"How to sustainable Grid Rural Electrification"
Penelitian masih berlangsung dengan hasil yang semakin baik. Inilah grafik efisiensi historis sel surya hingga kini. Peningkatan efisiensi adalah indikasi penurunan biaya.
Energi surya menunjukkan tren semakin murah dengan penurunan harga yang signifikan. Kita berharap pengambil kebijakan di Negeri ini membiasakan diri membaca fakta seperti ini untuk meraih peluang besar di masa depan. Tidak sedikit orang yang berkuasa (termasuk sebagian dinas-dinas terkait di daerah) yang masih mempertahankan argumen bahwa energi matahari mahal dan tidak perlu dipertimbangkan; hanya menggunakan data lama, tanpa melihat trend ini. Pemerintah di banyak negara maju membuat kebijakan masa kini dengan melihat informasi historis dan perkiraan masa depan.
Malaysia sudah jauh di depan kita dalam pengembangan energi matahari. Akankah dalam sektor ini kita kembali ke posisi inferior di banding negara tetangga, sehingga pada akhirnya kita hanya bisa habis-habisan mempertahankan lagu dan tari sebagai keunggulan kita?
Efisiensi Sel Riset Terbaik, NREL https://www.nrel.gov/pv/cell-efficiency.html
Megaproyek pembangunan pembangkit listrik 35 GW yang didominasi oleh PLTU batubara (sangat mungkin dibeli dari China, kita saksikan nanti). Berapa efisiensi PLTU batubara. Rekor dunia ada di Denmark, 47%, tetapi rata-rata yang beroperasi 32-35%.
Kita sudah berpengalaman terlambat mengambil keputusan yang berorientasi pada masa depan. Maka kita sering menjadi pengguna teknologi (pasar bagi bangsa lain), yang disadarinya terlambat.
Energi terbarukan semakin mendapat tempat dalam wadah kebijakan ekonomi dunia. Makin banyak negara – terutama negara-negara maju – membuat kebijakan yang mendukung pengembangan energi terbarukan.
Ada banyak alternatif memenuhi target bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23% pada tahun 2025. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terutama PLTS Atap adalah salah satu kunci memenuhi target tersebut.
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap demi mengejar bauran energi 23% pada tahun 2025 mendatang.
Namun sayangnya, masih banyak yang belum mengetahui bagaimana cara mengakses dan memikirkan biaya jika ingin memasang PLTS Atap. Dalam diskusi yang dilakukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui live Instagram di akun resmi @kesdm, salah satu peserta menanyakan perihal ongkos untuk pasang PLTS Atap ini.
Mencoba memberi gambaran, Managing Director Solarhub Indonesia Marlistya Citraningrum menjawab, dengan perkiraan tagihan listrik Rp 1 juta per bulan dengan daya 2.200 watt, maka bisa dipasang PLTS Atap berdaya 2,2 kilo watt-peak (kWp) dengan biaya sekitar Rp 35 juta.
“Misalnya kira-kira tagihan listrik sebulan Rp 1 juta, 2.200 watt bisa pasang (PLTS Atap) 2,2 kWp, biaya sekitar Rp 35 juta, biaya kira-kira,” ungkapnya menjawab pertanyaan di live Instagram tersebut, Jumat (19/02 ) . /2021).
Sementara itu, Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Ditjen EBTKE Chrisnawan Aditya mengatakan harga yang ditawarkan untuk PLTS Atap ini bervariasi. Untuk setiap 1 kWp, ada yang mematok Rp 15-17 juta, ada yang Rp 20 juta, tapi ada juga yang lebih murah yakni Rp 10 juta.
Meski berbeda, pemerintah menjamin standar yang mereka berikan, memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2021 tentang Penerapan Standar Kualitas Modul Fotovoltaik Silikon Kristalin.
“Setiap panel yang dijualbelikan, ada standar tertentu yang diberikan label SNI. Jadi, terserah mau harga Rp 10 juta, Rp 15 juta, atau Rp 20 juta, yang penting sudah penuhi SNI,” jelasnya.
Menurutnya ongkos ini belum termasuk biaya instalasi dan pemasangan smart meter dari PLN. Oleh karena itu, biaya investasi yang dikeluarkan, menurutnya baru akan kembali dalam jangka waktu 7-8 tahun.
“Kalau dilihat keseluruhan payback period 7-8 tahun. Lifetime PLTS Atap bisa 25 tahun, ibaratnya kita awal invest, gain tahun ke-9,”
Setelah memasang PLTS Atap, menurutnya besaran produksi listriknya bisa dicek
Inovasi tersebut dilakukan melalui program energi surya di atap bangunan (rooftop PV system). Instalasi energi surya rooftop dapat dipasang di atas atap kantor-kantor atau bahkan rumah-rumah penduduk. Inovasi ini didasarkan pada filosofi pembangkit listrik yang didistribusikan (pembangkit listrik terdistribusi), bukan mengacu pada kesamaan yang lazim. Pembangkit-pembangkit kecil, jika dibuat dalam jumlah banyak, jika diakumulasi menjadi pembangkit skala besar. Program ini dimungkinkan melalui skema perjanjian pembelian energi surya (PPA).
Bagaimana Anda apakah tertarik Memasang PLTS ATAP ?
PVsyst dan Helioscope adalah dua software yang sering digunakan untuk salinan kinerja sistem fotovoltaik (PV). Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, tergantung pada tujuan dan preferensi pengguna.
Perbedaan utama antara keduanya adalah bahwa Helioscope menghitung karakteristik sistem pada tingkat modul, sedangkan PVsyst menghitung software pada tingkat array. Ini berarti bahwa Helioscope dapat mempertimbangkan efek ketidaksesuaian antara modul yang disebabkan oleh faktor seperti arah, kemiringan, bayangan, atau kerusakan. PVsyst hanya menerapkan kerugian atas ketidakcocokan berdasarkan faktor-faktor yang ditentukan pengguna.
Selain itu, Helioscope memiliki antarmuka yang sederhana dan praktis yang memungkinkan pengguna untuk merancang dan menyebarkan sistem PV dengan cepat dan mudah. Helioscope juga terintegrasi dengan Google Maps dan LIDAR untuk memberikan data lokasi dan topografi yang akurat. Namun, Helioscope tidak memiliki fitur-fitur yang lengkap seperti PVsyst atau PVSOL. Misalnya, HelioScope tidak dapat mendeteksi sistem dengan baterai atau generator cadangan.
PVsyst adalah perangkat lunak yang lebih canggih dan komprehensif yang dapat digunakan untuk menganalisis berbagai aspek sistem PV, seperti komponen, tata letak, orientasi, radiasi matahari, kerugian termal, efisiensi konverter daya (inverter), kerugian kabel dan bisa input kabel panjang dengan manual. PVsyst juga dapat mendokumentasikan sistem dengan baterai atau generator cadangan. Namun, sistem PV memiliki antarmuka yang lebih rumit dan membutuhkan waktu lebih lama untuk merancang dan menyebarkan sistem PV.
Dengan Pvsyst, pengguna dapat memasukkan manual Bills Material & Bill of Quantity dengan rincian, parameter pembiayaan & akuntansi dapat diinput dengan rinci. Dengan demikian, desainer dapat bekerja sama dengan penasihat keuangan, talenta akuntansi, dan talenta pembelian untuk menghasilkan desain yang lengkap dan siap untuk dipresentasikan ke klien sebagai proposal akhir. Berbeda dengan Helioscope yang hanya bisa diinput cost of project secara umum saja / dengan menentukan cost/Wp. Sehingga software ini lebih cocok untuk Sales Engineering
HelioScope memiliki fitur sistem tata letak yang lebih unggul daripada PVsyst. HelioScope menggunakan Google Maps, Bing & Nearmap sebagai dasar untuk membuat sistem layout dengan mudah dan akurat. Pengguna dapat menyesuaikan ukuran, jarak, orientasi, kemiringan, dan modul posisi dengan bebas pada peta.
PVsyst menggunakan gambar 2D atau 3D sebagai dasar untuk membuat sistem layout dengan cara manual atau otomatis namun bisa menyusun string modul dengan sangat detail sehingga bisa sebagai acuan saat membuat Detail Engineering Design (DED).
Kesimpulan :
Mari kita menemukan perangkat lunak mana yang lebih relevan dengan kita.
Software kedua saya gunakan sejak tahun 2018 untuk keperluan pekerjaan saya. jadi keunggulan dan perbedaan tersebut saya simpulkan berdasarkan pengalaman saya selama ini, namun keduanya sangat membantu untuk pekerjaan saya.
Namun di tahun 2023 ini saya tidak memperpanjang Langganan Helioscope lagi dengan beberapa pertimbangan. Diantaranya adalah Langganan Tahunan-nya naik sejak mereka bekerja sama dengan Aurora untuk analisis Pembiayaannya.
Dengan fitur yang saya jelaskan di atas, Helioscope lebih mahal dari PVSYST, ditambah lagi setelah Helioscope menghadirkan fitur Financing Analysis nya bersama Aurora, harganya semakin jauh lebih mahal dari PVSYST. Karena itu saya memutuskan untuk Extent PVSYST saja dan Stop🛑 Helioscope.
Singkatnya, kedua perangkat lunak ini mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, kita hanya perlu menentukan preferensi kita untuk memilihnya.
Menggunakan software HOMER, sebuah sistem pembangkit listrik hybrid (hybrid) yang dirancang di sebuah desa terpencil di Provinsi Riau. Sistem terdiri dari PLTS 5 kW, Darrieus Hydrokinetic Turbine 2 x 3 kW, baterai 14.400 Ah, inverter 20 kW, dan generator diesel 18 kW sebagai cadangan.
Biaya energi listrik (COE) dari sistem hybrid lebih tinggi dibandingkan biaya listrik PLN. Namun saat ini, listrik PLN belum menjangkau desa tersebut sehingga masyarakat menggunakan genset. Biaya listrik sistem hybrid lebih murah dibandingkan biaya dengan genset. Emisi CO2 dari sistem hibridia juga jauh lebih rendah.
Untuk informasi selanjutnya, silahkan download artikel berikut:
2010_SEMNASIF_PROGRAM HOMER UNTUK STUDI KELAYAKAN PEMBANGKIT LISTRIK HIBRIDA DI PROPINSI RIAU .
Bagaimana Elektrifikasi Jaringan Pedesaan yang Berkelanjutan" “Dalam pengelolaan PLT EBT sangat dibutuhkan baik dari sisi kualitas su...